TUGAS UAS ARTIKEL TAFSIR IJTIMA'I 6A

 Agama Islam Ramah Kebudayaan

Fadlul Zaenuri

Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Universitas Islam Negeri  Syarif Hidayatullah Jakarta

(fadlulzaenuri46@gmail.com)

Abstrak

            Dalam artikel ini dibahas tentang agama dalam beberapa pengertian dan sudut pandang serta agama Islam dan kebudayaan yang ada dalam agama Islam di mana kebudayaan Islam tersebut hadir bercampur dari kebudayaan sebelum Islam hadir maupun berasal dari adat dan kebiasaan masyarakat setempat yang hidup dalam suatu lingkungan tertentu.

Kata kunci: Agama, Islam, Kebudayaan

Pendahuluan

            Dalam kehidupan di dunia yang sudah semakin kompleks dan beragam seperti sekarang ini, tidak dapat ditolak bahwa dalam kenyataannya agama memang amat beragam. Tentu hal itu juga berdampak pada pengertian agama yang sesungguhnya itu seperti apa, yang mana pengertiannya akan berbeda-beda sesuai dengan agama yang dianut manusia itu sendiri sehingga tidak mudah untuk memberikan pengertiannya.

            Pandangan seseorang terhadap agama, ditentukan oleh pemahamannya terhadap ajaran agama itu sendiri. Ketika pengaruh gereja di Eropa menindas para ilmuwan akibat penemuan mereka yang dianggap bertentangan dengan kitab suci, para ilmuwan pada akhirnya menjauh dari agama bahkan meninggalkannya.[1]

Ketika terjadi konfrontasi antara ilmuwan di Eropa dengan Gereja, ilmuwan meninggalkan agama, kemudian tidak lama setelahnya mereka sadar akan kebutuhan kepada pegangan yang pasti, lalu mereka kemudian menjadikan “hati nurani” sebagai alternatif pengganti agama. Namun tidak lama setelahnya mereka menyadari bahwa alternatif ini, sangat labil, karena yang dinamai “nurani” terbentuk oleh lingkungan dan latar belakang pendidikan, sehingga nurani Si A dapat berbeda dengan Si B, dan dengan demikian tolok ukur yang pasti menjadi sangat rancu.

Setelah itu lahir filsafat eksistensialisme di mana hal tersebut berarti mempersilakan manusia melakukan apa saja yang dianggapnya baik, atau menyenangkan tanpa mempedulikan nilai-nilai. Namun, itu semua tidak dapat menjadikan agama tergusur, karena seperti dikemukakan di atas bahwa agama tetap ada dalam diri manusia, walaupun keberadaannya kemudian tidak diakui oleh kebanyakan manusia itu sendiri. Quraish Shihab mengutip pernyataan dari William James bahwa selama manusia masih memiliki naluri cemas dan mengharap, selama itu pula ia beragama (berhubungan dengan Tuhan).[2] Jelas sudah ketika manusia memiliki perasaan khawatir dalam dirinya dan bahkan sampai memiliki perasaan takut, disitulah sesungguhnya manusia memiliki desakan yang kuat untuk beragama.

Agama Islam sebagai agama yang ada di dunia, hadir dalam rangka memberikan keselamatan bagi pemeluknya. Ajaran-ajaran di dalamnya senantiasa memberikan dampak positif dan kemaslahatan bukan hanya untuk pemeluknya, tetapi juga untuk keseluruhannya. Allah Swt. berfirman, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”[3] Allah mengutus Nabi Muhammad dalam ayat tersebut yaitu  untuk menanamkan kasih sayang kepada semua manusia dan bahkan kepada seluruh alam tanpa memandang latar belakangnya.

Salah satu bentuk penanaman kasih sayang umat Islam adalah bentuk toleransinya terhadap kebiasaan dan adat istiadat dan budaya masyarakat Arab pada saat itu. Dalam perjalanannya, Islam tetap berprinsip pada penanaman kasih saying dan tidak langsung mengubah apa yang ada di depannya sehingga hal itu memudahkan Islam tersebar dan diterima di kalangan masyarakat. Bahkan Islam juga dapat berakulturasi dengan kebiasaan dan adat setempat. Dari hal tersebut terlihat bahwa Islam memang tidak pernah lepas dari suatu kebudayaan yang ada pada masyarakat.

Dalam perkembangannya, ternyata di masa sekarang tidak semudah seperti pada masa awal-awal dulu. Banyak hal yang menganggap Islam sebagai agama yang tidak berempati pada budaya bahkan menyingkirkannya, banyak juga anggapan bahwa budaya di luar Islam hendaklah diberantas sampai habis. Topik diskusi tentang Islam dan kebudayaan selalu menjadi sesuatu yang menarik. Akan tetapi, dalam perspektif Islam, agama mengajarkan kepada manusia dua hal yang jika itu benar dilakukan maka manusia akan terhindar dari kehinaan dalam hidupnya, yaitu hubungan secara vertikal yakni dengan Allah Swt. dan hubungan dengan sesama manusia.[4] Lalu, apakah agama Islam masih relevan dengan kehidupan masa kini yang cerminannya seperti digambarkan di atas?” Dalam artikel ini akan dibahas mengenai agama, Islam, dan kebudayaan.

Pembahasan

Agama

            Dalam masyarakat Indonesia, kata agama memiliki banyak sinonim seperti kata din yang berasal dari Bahasa Arab dan kata religi yang berasal dari Bahasa Latin. Kata agama sendiri berasal dari Bahasa Sanskerta. Ada yang mengatakan terdiri dari dua kata yaitu a yang bermakna tidak, dan gama yang bermakna pergi. Jika digabungkan maka bermakna tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun-temurun. Ada juga pendapat lain yang mengatakan agama bermakna teks atau kitab suci. Kata gam juga bisa dikatakan sebagai tuntunan. Semuanya memang mengarah kepada makna agama pada umumnya yakni memiliki sifat turun-temurun, memiliki kitab suci, dan mengandung ajaran-ajaran bagi pemeluknya.

Kata din dalam Bahasa Semit memiliki makna hokum atau undang-undang. Dalam Bahasa Arab, kata din bermakna menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Kemudian kata religi menurut suatu pendapat asalnya adalah relegere yang berarti mengumpulkan, membaca. Pendapat lainnya, kata religi berasal dari kata religare yang berarti mengikat. Secara umum kata din dan religi, keduanya juga mengarah pada pemaknaan agama.[5]

Dari definisi kata-kata di atas, agama dapat didefinisikan sebagai:

1.      Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dan adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.

2.      Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber dari kekuatan gaib

3.      Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan takut terhadap kekuatan yang bersifat misterius tertentu.

4.      Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.[6]

Dalam sudut pandang antropologi, agama secara tradisional dipandang sebagai kebudayaan. Pandangan ini terkait dengan tujuan antropologi untuk melakukan eksplanasi dan analisis mengenai agama. Agama sebagai perangkat doktrin yang datang dari Tuhan dipandang tidak produktif bagi kepentingan analisis kehidupan masyarakat dan kebudayaan. Salah satu tokoh antropologi yang secara ekspilisit menyatakan hal ini adalah Clifford Geertz.  Ia menyatakan bahwa agama adalah inti kebudayaan yang menjadi acuan bagi kehidupan manusia, yang menjadi panduan penjelasan mengenai dari mana manusia berasal, untuk apa ia hidup di dunia, dan akan ke mana ia pergi setelah meninggal. Kekerabatan atau organisasi sosial, ekonomi, atau politik tidak dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan misteri tersebut. Hanya agamalah yang dapat menjelaskannya.[7]

Dalam pandangan sementara pakar Islam, agama yang diwahyukan Tuhan, benihnya muncul dari pengenalan dan pengalaman manusia pertama di pentas bumi. Di sini ia memerlukan tiga hal, yaitu keindahan, kebenaran, dan kebaikan. Gabungan ketiganya dinamai suci. Manusia ingin mengetahui siapa atau apa Yang Mahasuci, dan ketika itulah dia menemukan Tuhan, dan sejak itu pula ia berusaha berhubungan dengan-Nya bahkan berusaha untuk meneladani sifat-sifat-Nya. Usaha itulah yang dinamai beragama, atau dengan kata lain, keberagamaan adalah terpatrinya rasa kesucian dalam jiwa beseorang. Karena itu seorang yang beragama akan selalu berusaha untuk mencari dan mendapatkan yang benar, yang baik, lagi yang indah.

Dengan memahami makna nama agama ini yakni Islam, seseorang telah dapat mengetahui bahwa ia adalah agama yang mendambakan perdamaian. Cukup juga dengan mendengarkan ucapan yang dianjurkan untuk disampaikan pada setiap pertemuan. “Assalamu 'Alaikum” (Damai untuk Anda), seseorang dapat menghayati bahwa kedamaian yang didambakan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk pihak lain. Kalau demikian, tidak heran jika salah satu ciri seorang muslim seperti yang Nabi Muhammad Saw. katakan yakni muslim adalah siapa yang menyelamatkan orang lain (yang mendambakan kedamaian) dari gangguan lidahnya dan tangannya.[8]

Allah Swt berfirman, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup, apakah mereka beriman”[9] Dia yang menciptakan segala sesuatu berdasarkan kehendak-Nya semata. Semua ciptaan-Nya adalah baik dan serasi, sehingga tidak mungkin kebaikan dan keserasian itu mengantar kepada kekacauan dan pertentangan. Dari sini bermula kedamaian antara seluruh ciptaan-Nya.

Islam dan Kebudayaan

            Islam menurut Harun Nasution adalah agama yang termasuk dalam ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul menurut definisi di atas. Islam pada hakikatnya tidak hanya membawa ajaran-ajaran hanya dari satu segi saja, tetapi dari segi banyak sisi kehidupan manusia, Islam membawa ajaran-ajaran yang berkaitan dengannya. Sumbe ajaran-ajaran yang diambil itu berasal dari Al-Qur’an dan Hadis.[10]

Islam mengajarkan bahwa Tuhan adalah Pencipta alam semesta.Oleh karena itu, perlu dibahas arti penciptaan, materi yang diciptakan, hakikat roh, kejadian alam, hakikat akal, hakikat wujud, arti qidam, dan lainnya. Pemikiran dalam hal-hal ini dilakukan oleh akal.[11]

Tidak semua persoalan bisa diselesaikan atau bahkan dihadapi oleh akal. Karya seni tidak dapat dinilai semata-mata oleh akal, karena yang lebih berperan di sini adalah kalbu. Kalau demikian, keliru apabila seseorang hanya mengandalkan akal semata-mata. Akal bagaikan kemampuan berenang. Akal berguna saat berenang di sungai atau di laut yang tenang, tetapi bila ombak dan gelombang telah membahayakan, maka yang pandai berenang dan yang tidak bisa berenang sama-sama membutuhkan pelampung.

Dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agama sesungguhnya sangat berperan, terutama jika manusia tetap ingin jadi manusia. Ambillah sebagai contoh bidang bio-teknologi. Ilmu manusia sudah sampai kepada batas yang menjadikannya dapat berhasil melakukan rekayasa genetika. Apakah keberhasilan ini akan dilanjutkan sehingga menghasilkan makhluk-makhluk hidup yang dapat menjadi tuan bagi penciptanya sendiri? Apakah ini baik atau buruk? Yang dapat menjawabnya adalah nilai-nilai agama, dan bukan seni, bukan pula filsafat.[12]

Jadi Islam bukan hanya dalam satu aspek saja, tetapi berbagai aspek yang sebenarnya memiliki ada dalam kehidupan sehari-hari seperti aspek teologi, aspek ibadat, aspek moral, aspek mistisisme, asek falsafah, aspek sejarah, aspek kebudayaan, dan lainnya.[13]

Dalam aspek kebudayaan, setiap manusia pasti berbudaya. Karena inilah ciri khas yang membedakannya dengan spesies binatang. Ketika agama samawi turun untuk manusia maka secara otomatis ia akan bersentuhan dengan budaya manusia: tentang pakaian, pola makan, tempat tinggal, serta cara berperilaku, berinteraksi dengan masyarakat dan alam, mengatasi masalah, dan lain sebagainya.[14]

Terkait dengan perkembangan kebudayaan Islam, jauh sebelum Islam masuk, budaya-budaya lokal disekitar semenanjung Arab telah lebih dulu berkembang, sehingga budaya Islam sendiri banyak beralkulturasi dengan budaya-budaya lokal tersebut. Perubahan sesuai dengan pola cita Islam tersebut disebut juga Islamisasi (proses pembentukan kebudayaan Islam diatas kebudayaan yang telah ada). Hal itu dilakukan dengan cara sosialisasi dan enkulturasi, dengan tetap mengacu pada prinsip-prinsip yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Hadis.[15]

Dalam Islam sendiri dikenal zona-zona kebudayaan, dan masing-masing zona mempunyai ciri sendiri-sendiri. Di antaranya Afrika Utara, Afrika Tengah, Timur Tengah, Turki, Iran, India, Timur Jauh, dan zona Asia Tenggara misalnya, kita memiliki kebudayaan Islam Aceh, Jawa, Malaysia, Filipina, dan sebagainya. Namun hal yang disepakati oleh para ahli terkait kebudayaan Islam (Muslim) yaitu bahwa berkembangnya kebudayaan menurut Islam bukanlah value free (bebas nilai), tetapi justru value bound (terikat nilai). Keterikatan terhadap nilai tersebut bukan hanya terbatas pada wilayah nilai insani, tetapi menembus pada nilai Ilahi sebagai pusat nilai, yakni keimanan kepada Allah SWT, dan iman mewarnai semua aspek kehidupan atau memengaruhi nilai-nilai Islam.[16]

Kesimpulan

            Berdasarkan uraian tentang artikel di atas, dapat dilihat ajaran-ajaran Islam yang penuh dengan kemaslahatan bagi manusia ini, tentunya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Tidak ada satupun bentuk kegiatan yang dilakukan manusia, kecuali Allah telah meletakkan aturan-aturannya dalam ajaran Islam ini. Kebudayaan adalah salah satu dari sisi penting dari kehidupan manusia, dan Islampun telah mengatur dan memberikan batasanbatasannya. Islam adalah agama yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Islam adalah ajaran yang mengajarkan kebenaran dan kebaikan sehingga mereka bisa hidup dengan rukun tanpa ada gangguan. Islam sebagai sistem keyakinan dapat menjadi sebagian nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat bersangkutan, menjadi pendorong dan pengendali agar masyarakat tersebut tetap sesuai dengan kaidah-kaidah kehidupan manusia. Sehingga Islam dan budaya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan normatif dan kemaslahatannya.

Daftar Pustaka

            Fitriyani, 2012, ISLAM DAN KEBUDAYAAN, Vol. 12 No.1

            Lubis, M. Ridwan, 2017, SOSIOLOGI AGAMA: MEMAHAMI PERKEMBANGAN AGAMA DALAM INTERAKSI SOSIAL, Jakarta: Kencana.

Nasution, Harun, 2018, Islam Ditinjau Dari Bebagai Aspeknya, Jakarta: UI Press.

https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-islam-agama-ramah-budaya-bzGO4 diakses 20 Juni 2022

Shihab, M. Quraish, 1996, Wawasan Al-Qur’an, Cet. 3; Bandung: Mizan.



[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan) Cet. 3. hal. 367.

[2] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996) Cet. 3. hal. 367.

[3] Lihat QS. Al-Anbiya: 107

[4] Lihat Q.S. Ali Imran: 112

[5] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Bebagai Aspeknya (Jakarta: UI Press, 2018) hal 1-2

[6] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Bebagai Aspeknya (Jakarta: UI Press, 2018) hal 3

[7] M. Ridwan Lubis, SOSIOLOGI AGAMA: MEMAHAMI PERKEMBANGAN AGAMA DALAM INTERAKSI SOSIAL (Jakarta: Kencana, 2017) hal. vi

[8] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996) Cet. 3. hal. 369

[9] Lihat Q.S. Al-Anbiya: 30)

[10] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Bebagai Aspeknya (Jakarta: UI Press, 2018) hal 17

[11] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Bebagai Aspeknya (Jakarta: UI Press, 2018) hal 26

[12] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996) Cet. 3. hal. 368

[13] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Bebagai Aspeknya (Jakarta: UI Press, 2018) hal 27

[14] https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-islam-agama-ramah-budaya-bzGO4

[15] Fitriyani, ISLAM DAN KEBUDAYAAN (Jurnal Al- Ulum, Juni 2012) Vol. 12 No.1

[16] Fitriyani, ISLAM DAN KEBUDAYAAN (Jurnal Al- Ulum, Juni 2012) Vol. 12 No.1

Comments